Eksistensi Budaya Mageguritan Pada Masyarakat di Kelurahan Ubud

  • Ni Putu Parmini FPBS IKIP Saraswati
Keywords: eksistensi, mageguritan, masyarakat, Kelurahan Ubud

Abstract

Tujuan tulisan ini, untuk mengetahui eksistensi aktivitas mageguritan pada masyarakat di Kelurahan Ubud. Mageguritan merupakan salah satu apresiasi sastra yang biasanya dilakukan untuk fungsi ritual. Geguritan masih ditulis, diterbitkan, dibaca dan dinyanyikan. Hal itu terbukti dari adanya sekaa santi di desa-desa dan munculnya geguritan-geguritan baru, seperti Geguritan Sidha Yoga Krama oleh I Made Degung. Mageguritan sebagai tradisi masyarakat Bali dilakukan oleh perseorangan maupun kelompok santi (sekaa santi). Geguritan dapat pula dinyanyikan secara langsung dan interaktif di radio maupun televisi. Aktivitas mageguritan masih perlu dibina dan dikembangkan khususnya pada masyarakat di Kelurahan Ubud. Hal itu ditunjukkan dari hasil kuisoner, masih sebagian kecil peminat mageguritan di Kelurahan Ubud. Masyarakat di Kelurahan Ubud sebagian kecil menyadari bahwa geguritan sebagai karya sastra yang penuh dengan muatan nilai-nilai yang bermanfaat bagi kehidupan. Mageguritan sebagai aktivitas sastra diimbau pengarang agar pembaca benar-benar mampu menunjukkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari ajaran Agama Hindu. Di samping itu diimbau pengarang agar pembaca mampu menyesuaikan fungsi geguritan yang dinyanyikan itu dengan upacara keagamaan. Eksistensi aktivitas mageguritan di Kelurahan Ubud, geguritan yang dinyanyikan sesuai dengan fungsi ritual. Hanya saja masih minimnya peminat masyarakat dalam aktivitas mageguritan dan pemahaman terhadap fungsi geguritan itu. Masyarakat di Kelurahan Ubud masih perlu pembinaan dan pengembangan dalam hal geguritan.

 

Published
2020-02-07