DAMPAK BELIS DALAM PERKAWINAN ADAT MASYARAKAT DESA RIUNG, KECAMATAN CIBAL, KABUPATEN MANGGARAI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

  • leonardus ganggas kurnia dewa IKIP Saraswati
Keywords: Makna, Simbol, Belis, Studi Kasus

Abstract

Belis adalah salah satu tradisi adat yang dimiliki oleh masyarakat manggarai khususnya masyarakat desa riung. Belis dilaksanakan sebelum terjadinya akat pernikahan. Tujuan utama dari pelaksanaan adat ini adalah mengangkat derajat kaum wanita dan pengikat tali kekeluargaan antara keluarga laki-laki dan keluarga perempuan. Peneliti melihat terjadi pergeseran makna belis dari sebuah tradisi budaya menjadi suatu hal yang dianggap beban dan memberatkan bagi laki-laki sebagai pihak yang memberikan belis. Pergeseran makna ini ditemukan lewat artikel-artikel berita atau media massa berbasis online. Selain itu, belis juga diidentikan dengan „membeli perempuan daripada sebuah bentuk penghargaan kepada perempuan. Dampak dari pergeseran makna belis ini adalah tidak berlangsungnya pernikahan secara gereja karena pihak keluarga laki-laki belum melunasi belis yang ditentukan oleh pihak keluarga perempuan, selain itu apabila keluarga laki-laki uda melunasi belis yang ditentukan oleh pihak keluarga perempuan maka keluarga laki-laki beranggapan bahwa mereka sudah mebelinya sehingga mereka boleh memperlakukan wanita sesuka hati mereka karena beranggapan mereka sudah membelinya, anggapan ini dapat memicu kekerasaan dalam rumah tangga (KDRT). Teori yang digunakan dalam proses interpretasi ialah teori interaksi simbolik. Teori-teori ini digunakan karena, kecenderungan manusia berperilaku atas pemaknaannya terhadap suatu simbol tertentu. Hal tidak terlepas dari pemaknaannya secara pribadi melalui pengalaman manusia. Selain itu, melihat pada bagaimana pengalaman diskusi pada pernikahan yang telah dilakukan oleh para informan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualiatif, tipe penelitian deskriptif dan metode studi kasus.

Published
2021-08-25