PROSES UPACARA TEING HANG DITINJAU DARI NILAI-NILAI PANCASILA DAN IMPLIKASINYA PADA MASYARAKAT DESA RACANG

  • erwin susanto IKIP Saraswati
Keywords: Kata Kunci: Upacara Teing Hang, Masyarakat Manggarai.

Abstract

Agama disini masuk sebagai salah satu unsur dari kebudayaan suatu masyarakat, membawa pengaruh tersendiri dalam kehidupan masyarakat,termasuk Masyarakat Manggarai (Desa Racang Welak). Maksud upacara teing hang kepada para leluhur ialah agar tetap tercipta sebuah relasi yang hidup antara leluhur dan anggota keluarga yang masih hidup serta antara sesama anggota keluarga. Hidup adalah kualitas yang membuat eksistensi itu layak hidup, dipertahankan dan dirindukan. Hidup itu selalu dalam keadaan mengalir. Konsekuensinya, agama perlu menghindari hidup itu dari kemerosokan/kemuduran. Pendekatan yang di gunakan dalam penelitian ini adalah Pendekatan Kualitatif yang merupakan produser penelitian yang menghasilkan data deskriptif, berupa data-data tertulis maupun lisan dari orang-orang dan prilaku yang di amati. Penelitian kualitatif di sebut penelitian naturalistik. Di sebut kualitatif karena sifat data yang di kumpulkan yang bercorak kualitatif, bukan kuantitatif, karena tidak menggunakan alat-alat pengukur. Di sebut naturalistik karena situasi lapangan bersifat “natural” atau wajar, sebagaimana adanya, tanpa di manipulasi, di atur dengan eksperimen Rancangan penelitian ini adalah penelitian kualitatif yaitu melakukan penelitian di Desa Racang Welak, Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat dengan menghasilkan data deskripsikan yang diperoleh dari orang-orang yang teliti.

 

 

Religion here entered as one element of the culture of a society, bringing its own influence in people's lives, including the Manggarai Society (Racang Welak Village). The purpose of the teing hang ceremony for the ancestors is to create a living relationship between the ancestors and family members who are still alive and between fellow family members. Life is a quality that makes existence worth living, maintained and longed for. Life is always in a flowing state. Consequently, religion needs to avoid life from deterioration. The approach used in this study is a Qualitative Approach which is a research producer that produces descriptive data, in the form of written and oral data from people and observed behaviors. Qualitative research is called naturalistic research. It is called qualitative because the nature of the data collected is qualitative, not quantitative, because it does not use measuring devices. Called naturalistic because the field situation is "natural" or natural, as it is, without manipulation, arranged by experiment. The design of this study is qualitative research that is conducting research in the Village of Racang Welak, Welak District, West Manggarai Regency by producing descriptive data obtained from conscientious people.

Published
2020-12-16